Hidden Paradise of Central Mollucas

“This is Indonesia, where the golds grow from the trees”,

said one of the NatGeo’s journalist when she arrived in Mollucas

Bukan, bukan emas beneran, tapi cengkeh, kelapa, pala yang pada zaman kolonial (katanya) harganya melebihi emas pada zaman itu, ada di Maluku, bahkan melimpah stoknya. Tapi bukan pala, kelapa, atau cengkeh yang mau saya bahas, namun alamnya. Lupakan Maldives sejenak, mari kita sama sama lihat ke surga kecil di gugusan kepulauan Maluku ini. Kata orang, Indonesia Timur enggak akan ada tandingannya, Jadilah ini trip pertama saya ke bagian timur Indonesia.

Saya sampai di Bandar Udara Pattimura, Ambon, tengah hari, dan harus naik kapal – sejenis kapal pelni,1 jam dari Pelabuhan Tulehu ke Pelabuhan Amahai (Masohi) untuk ke Pulau Seram. Dari pelabuhan, kira kira masih 4 (atau 5) jam menuju penginapan saya, namanya Lisar Bahari. Perjalanan super duper panjaaaaaang, dan walaupun pemandangan di gunung kelihatan, langit lama lama gelap dan yang bisa dilihat hanya cahaya dari lampu mobil. Waktu sudah jam setengah 11 malam, saya didrop di pelabuhan kecil supaya dijemput lewat jalur laut menuju penginapan.(Sebenarnya pihak penginapan tidak berkewajiban jemput kami tapi kelihatannya mereka kasihan karena sudah terlalu malam…) Bersyukurlah kami lewat jalur laut yang pada akhirnya naik sampan karena pemandangannya gak akan ada yang pernah gantikan, mahakarya Tuhan, Bimasakti! Bintang jatuh rasanya sudah jadi pemandangan biasa di sana, dalam waktu 1 menit bisa ada 1 sampai 5 bintang jatuh, dan sisanya kelap kelip di langit.

IMG_7120Ini kali pertama saya bisa lihat Bimasakti, yang sudah saya tunggu-tunggu dari saya kecil. Rasanya enggak kepingin masuk kamar, mau tidur di jembatan kayu yang ada di sana, terus lihat bintang sampai ketiduran.. Penginapan Lisar Bahari sejuk, walaupun terletak di teluk dan tidak tersedia air conditioner. Kata pemilik penginapan, udaranya sejuk karena lokasinya di Amahai, yaitu di depan Taman Nasional Manusela, bukit-bukit, dan gunung jadi malam hari ada angin darat yang membuat udaranya sejuk saat malam hari. Rate penginapan Lisar Bahari Rp 250.000,- include room untuk 2 orang, makan pagi, siang, malam, cemilan, yang semuanya dimasak langsung oleh yang punya penginapan dan masakannya….. enak banget ga bohong.

Hari kedua saya berencana ke kampung belakang, sekalian ke Seram Animal Rescue Center. Pagi nya saya ke luar kamar dan pemandangannya…numero uno! Lautnya jernih, warnanya biru tua, dan tenang karena letaknya di teluk. Setelah sarapan saya pergi ke perkampungan di belakang penginapan, kehidupan di sana hangat…orangnya ramah ramah dan setiap kita papasan, pasti mereka senyum. Katanya, di sini (hampir) tidak akan ada yang namanya pencurian atau perampokan. Waktu kerusuhan Ambon pun, Amahai termasuk lokasi yang terbilang aman, walaupun kampungnya berbeda – beda kepercayaan, mereka sudah menganggap satu sama lain seperti saudara, beda dengan Jakarta.

IMG_7129IMG_7132IMG_7133img_74841

Kata masyarakat sekitar, Seram Animal Rescue Center dekat dengan penginapan, jadi saya jalan kaki ke sana. Tapi, sudah hampir 1 jam jalan dan orang yang lewat selalu bilang, “oh deket, 1 kilo lagi”, dan setiap beberapa menit saya tanya, jawabannya beda- beda “Oh itu mah deket, paling 2 kilo lagi” atau “Jalan lurus terus, setengah jam juga sampai”. Ya… saya capek. Akhirnya saya nebeng mobil angkut beras (hahaha?!) dan sampai di tujuan.
img_71891img_72061
Seram Animal Rescue Center menyediakan aktivitas Bird Watching, karena Seram memiliki 21 species burung endemik (yang hampir punah. Mengapa? Karena banyak orang yang memasang jebakan di Taman Nasional Manusela supaya diambil jadi milik pribadi atau dijual). Sebelum melakukan Bird Watching, ada baiknya contact pengurus Seram Animal Rescue Center dan tanya, apa pengurus Bird Watching ada di tempat atau enggak. Kata orang-orang yang saya temui di Ambon dan pernah melakukan Bird Watching di sana, pemandangannya bagusss banget, tapi sayang waktu saya ke sana orang nya lagi pulang ke negara asalnya. Bird Watching sebenarnya bisa dilakukan dari Taman Nasional Manusela, dan sepertinya memang lebih baik dari taman nasional, tapi berhubung saya enggak berani kesana karena saya datang bukan dalam bentuk grup, jadi lah saya kembali ke penginapan untuk makan siang. Masakan di Lisar Bahari enggak ada duanya….semua makanan fresh from the ocean! Sore harinya juga disuguhi kolak yang masih hangat dibumbui cengkeh yang harumnya menyengat,

Setelah menyusuri Sawai di bagian darat, esok hari nya saya memutuskan meminjam perahu untuk ke Ora (sewa sebetulnya, dan tarifnya lumayan mahal karena bahan bakar di Maluku harganya tinggi). Pulau Seram menyimpan banyak sekali tourist attraction, tapi terkadang semuanya tergantung pada iklim dan cuaca. Selama perjalanan ke Pantai Ora dan pulau-pulau sekitarnya, saya bisa melihat tebing yang tinggiiiii sekali, dan di dalamnya ada gua laut yang bisa kita jelajahi.

img_72341img_72581

Pantai Ora, hidden paradise yang terletak di utara Seram, ditempuh kurang lebih 5 menit dari Lisar Bahari. Penginapan Ora Beach Resort apik dan cocok buat eco-travellers! Ratenya dari Rp 1.000.000,- sampai Rp 1.500.000,- harus dibook jauh jauh hari karena penginapan ini selalu ramai (katanya). Laut Seram punya beberapa snorkeling and diving spot, but unfortunately…I didn’t own any diving license 😦 Untuk sekedar informasi, di Seram tidak ada rental peralatan dan perlengkapan diving, jadi divers harus rent semuanya dari Ambon. Walaupun kesempatan diving di sini lenyap, pemandangan yang ditawarkan Ora Beach enggak mengecewakan.

img_73511img_73381

Corals + ikan-ikannya bisa kita lihat langsung dari permukaan laut, atau bahkan dari kamar Ora Beach Resort. Anyway, di sini ada semacam tempat “nongkrong” yang bagus banget, bisa langsung nyebur ke laut atau sekedar minum minum di bar kecil yang disediakan resort. It was truly a pleasure to visit such a beautiful place like this….

img_73991img_73831img_73791

Tidak lengkap rasanya, atau “enggak afdol”, kata orang, kalau kita traveling, tapi enggak belajar budaya setempat. Hari terakhir saya di Seram, saya habiskan dengan mengunjungi Suku Nuaulu. Suku ini terbagi menjadi dua, yaitu Nuaulu Utara dan Selatan. Saya pergi ke perkampungan Suku Nuaulu Selatan, karena selain jaraknya lebih dekat, Nuaulu yang di Selatan lebih mungkin “menerima” kedatangan kita.

Jangan heran kalau kita datang ke perkampungan mereka, dan diusir secara tiba-tiba, karena mereka tidak suka ada orang “luar” yang mengganggu atau menganggap tidak menghormati mereka. Beruntung saya dikenalkan dengan penduduk di belakang penginapan yang ternyata keturunan suku Nuaulu dan akhirnya mengantar ke sana. Perjalanan ditempuh 3-4 jam (sudah pulang pergi) naik sepeda motor. Kalau berencana pergi ke suku Nuaulu, jangan lupa beli tembakau di warung terdekat, kalau bisa yang banyak. Petua-petua Suku Nuaulu suka tembakau, sehingga tembakau bisa dijadikan “sogokkan” supaya menerima kedatangan tamu.

img_75041img_75311img_75081img_75421

Suku Nuaulu berjumlah sekitar 2500 orang dan terkenal dengan adat istiadat yang lumayan sadis, yaitu head-hunting. Laki-laki yang sudah cukup dewasa dan mau menikah, harus memburu manusia untuk diambil kepalanya dan diserahkan kepada raja. Waktu saya datang ke sana, raja Nuaulu sedang keluar kampung sehingga saya tidak bisa bertemu langsung.

Mereka punya pakaian khas Nuaulu, yaitu ikat kepala warna merah yang masih dipakai orang tua yang dihormati kampungnya sampai hari ini. Suku Nuaulu percaya bahwa adat istiadat yang ada masih harus dijaga karena leluhur bisa menghukum mereka dengan penyakit, kematian, atau kemiskinan. Saat saya duduk sama bapak bapak dari suku Nuaulu, mereka bilang (dalam bahasa mereka, terus diterjemahin) “Saya sebenernya mau ngusir kamu tadi, tapi saya lihat yang naik sepeda motor itu keturunan Nuaulu, jadi saya biarin aja. Minggu lalu ada anak muda 20 orang ke sini, saya ursir”. Jadi jangan main-main kalau ke Nuaulu, saat datang ke sana, kalau bisa jangan langsung foto-foto tapi masuk ke rumahnya dulu untuk minta izin, karena mereka menganggap itu enggak sopan, kok peninggalan nenek moyang difoto seenaknya…
Saya enggak tau mau kemana setelah dari Suku Nuaulu. Akhirnya, saya minta dibawa ke pulau pulau yang ada di teluk. Menurut saya, beberapa pulau ini sebenarnya bukan pulau, karena saat pasang naik, pulaunya tertutup dan jadi laut. Pulau pulau yang ada di sana tidak jauh beda dengan pulau pulau tak berpenghuni yang biasa kita lihat, tapi ada satu pulau yang namanya Pulau Raja, dimana hanya dihuni oleh kelelawar dan brisiknya bukan main.. Kita bisa ke pulau pulau ini dengan menyewa perahu dari penginapan, dan jangan kaget kalau harganya bisa lebih mahal dari tarif kita menginap semalam di sana…. hahaha.

img_75841img_75511

Kalau enggak tertarik ke pulau-pulau kecil ini, duduk santai di depan kamar penginapan juga ada baiknya, karena lautnya tenang dan bikin suasana jadi adem hehe. Kalau hobi mancing, mancing juga bisa jadi selingan, karena lautnya cukup dalam dan sore hari mulai banyak ikan dan cumi cumi yang muncul ke permukaan laut, ditambah dengan pemandangan matahari terbenam dari penginapan bisa membuat semuanya lengkap, matahari terbenam di bagian timur Indonesia.

img_76631

Hari terakhir di Seram enggak membuat saya bosan di sini, saya janji suatu hari akan datang ke tempat ini lagi, bawa temen-temen yang penasaran sama surga kecil di utara mother island of Central Mollucas ini. Saya pingin lebih banyak orang bisa nonton langit jingga yang sama seperti yang saya lihat sore itu. Pulau Seram enggak seseram yang orang orang pikirkan, pulau ini cantik dan indahnya bukan main… Di sini kita enggak cuma bisa memanjakan mata tapi memanjakan hati dan pikiran! Belajar yang namanya kesederhanaan dan kebersamaan. Dangke Maluku Tengah! You will be missed.

*Note : Jangan lupa untuk tidak membuang sampah sembarangan, misalnya di laut. Terumbu karang dan koral di depan kedua penginapan sudah rusak dan ikan ikan yang bagus pun sudah kabur, karena dengar-dengar dulu di sini tempat diving yang bagus, tapi travellers yang tidak bertanggung jawab menginjak-injak seenaknya habitat hewan laut tersebut sehingga banyak yang mati.

 

Advertisements

3 thoughts on “Hidden Paradise of Central Mollucas

  1. Pingback: The Captivating Tana Toraja | Welcome, Wanderer!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s