What Keeps Me Coming Back to Jogja

img_0119.jpg

“Jogja? Lagi Mel?”, “Nggak bosen ya Jogja terus?”, “Kayak gak ada tempat lain aja mel”. Yah, sebenarnya saya baru 2 bulan yang lalu ke Jogja. Namun, dari namanya saja sudah Daerah Istimewa Yogyakarta, bagi saya Jogja memang istimewa dan selalu punya tempat sendiri di hati. Seribu kali ke Jogjapun, seribu kali juga jatuh cinta dengan kota Jogja. Kalau ditanya apa yang membuat saya kembali berkunjung ke Jogja berkali-kali; alasannya adalah….gatau jugaūüėÖ. Probably karena perasaan yg didapetin saat ngabisin waktu di sana.

Booking ticket 2 hari sebelum keberangkatan bukan masalah. Pasalnya, trip yang enggak direncanakan matang-matangpun akan jadi matang kalau kita dapat pak supir yang baik, pintar, lucu, bawel dan dibawa ke makanan yang enak enak. So… thank you so much, Pak Ali!

collage.jpg

Jogjakarta, mistis-mistis romantis.

Banyak hal yang kita enggak pernah ketahui di balik kerlap kerlip lampu di Malioboro, banyak sesuatu yang belum pernah kita pahami dari istilah Kota Seribu Candi, dan terlalu banyak cerita yang belum disampaikan di belakang setiap pagelaran yang ditampilkan.

Banyak hal yang bisa kita lakuin di Yogyakarta, dan ini beberapa pilihan saya.

Kotagede

img_1860.jpgimg_1862.jpgKotagede menjadi tujuan pertama sesampainya saya di Jogja. Selain terkenal dengan perhiasan silvernya, sebenarnya Kotagede adalah saksi bisu berdirinya Kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa, banyak peninggalan kerajaan yang masih tersisa di Kotagede.

Imogiri

img_1868.jpgimg_18721.jpg

Post: Kyoto, The Ancient Capital

Hal yang baru saya sadari mengenai Jogja adalah wisata kerajinannya cenderung berkelompok sehingga kita lebih mudah mendatangi tempat kerajinan yang ada.

Berkunjung ke Yogyakarta tidak akan jauh dari dunia wayang kulit. Bapak Dhidot adalah pengrajin wayang kulit yang masih terbilang muda. Kecintaannya atas wayang kulit khas Yogyakarta mendorong dirinya untuk membuka sendiri tempat kerajinan wayang kulit tepat di depan rumahnya di Imogiri, Bantul. Selain membuat wayang, beliau juga adalah seorang dalang yang handal.

img_1864.jpg

Bukan hanya wayang yang menjadi embel-embel Yogyakarta, sama halnya dengan batik. “Surganya batik” adalah sebutan yang menggambarkan Kampung Giriloyo dan ini adalah tujuan saya selanjutnya.

Sejak awal masuk ke perkampungan sampai ke ujung hampir seluruh rumah adalah rumah pem-batik. Mulai dari batik yang harganya selangit, sampai harga kaki lima semua ada.

Sayangnya saya nggak punya banyak waktu di sini, berhubung masih suasana Lebaran, rumah-rumah pengrajin banyak yang tutup, jadi saya kembali ke Giriloyo di hari terakhir untuk lihat ke rumah pembatik yang lain.

Candi Ratu Boko

img_1883.jpgimg_1881.jpgimg_1935.jpgwpid-2015-08-16-11-12-55-1-jpg.jpegimg_1916.jpg

Hari itu ditutup dengan sunset di Candi Ratu Boko, candi yang konon dibangun oleh Bhre Wirabhumi (you can google him). Keistimewaan dari istana Jawa Kuno ini adalah tidak terletak di tanah landai seperti keraton-keraton Jawa lainnya. Hal ini yang menjadi syarat udara sejuk dan mata air untuk kehidupan sehari hari pada zaman itu. Ratu Boko menyimpan pemandangan indah saat sunset karena terletak sedikit lebih tinggi dari perkotaan.

Ullen Sentalu

img_2539.jpgimg_2555.jpgimg_2546.jpg

Singkat cerita, esok paginya saya mengunjungi the best Indonesian museum. Yep, Ullen Sentalu, for the third time.

Saya enggak mau spoil terlalu banyak, tapi Ullen Sentalu sendiri adalah singkatan dari : Ullating Blencong Tataraning Sejatine Lumaku, yang artinya : nyala lampu blencong (lampu dalam perwayangan) menjadi petunjuk manusia dalam meniti kehidupan. Museum ini adalah a must visit destination saat menginjakkan kaki di kota Jogja.

Ullen Sentallu menceritakan hal yang belum pernah disentuh masyarakat luas tentang Kasultanan Ngayogyakarta, Kasunanan Surakarta, Puro Pakualaman dan Istana Mangkunegaran.

Selain berisi peninggalan dan¬†untold story¬†mengenai kerajaan tersebut, Ullen Sentalu membahas bagaimana dan cerita menjadi perempuan Ningrat Jawa. Bahwa sebenarnya menjadi perempuan di suatu kerajaan adalah perihal yang tidak mudah dan membawa pengaruh besar dalam berlangsungnya sebuah kerajaan. Pada akhir tur di museum, pengunjung diberikan minuman khas Jawa dari jahe, kayu manis, dan lainnya yang berasal dari resep Ratu Mas. Konon, resep ini dipercaya sebagai resep untuk awet muda! ūüôā

Prambanan

img_1955.jpg

Candi Prambanan ini bukan candi biasa. Pernahkan terfikir bagaimana cara pembuatan candi setinggi ini?

Jadi, sebenarnya cara pembuatan Prambanan itu selapis-selapis. Maksutnya, setelah batu di lapis pertama selesai, di sekitarnya ditutup dengan tanah, terus begitu sampai ke lapisan paling atas supaya ada tempat berjalan untuk ‘tukang bangunannya’. Saat¬†sudah sampai di paling atas, dibersihkan semua tanah nya, dan jadilah Candi Prambanan!

Jawa Tengah, khususnya Jogja memiliki banyak sekali candi karena letaknya yang dekat dengan aliran sungai, maka dari itu kota ini disebut Kota Seribu Candi. Apa hubungannya aliran sungai dengan banyak nya jumlah candi yang ada?

Batu-batu yang kita lihat di candi adalah batu yang berasal dari sungai. Inilah yang menyebabkan batu di Prambanan lebih besar dari Borobudur karena letak Prambanan tepat di sebelah sungai, sedangkan Borobudur jauh dari sungai sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk membawa semua batu ke atas.

Di sekitarnya bisa ditemukan batu-batu yang berwarna putih abu. Itu bukti¬†bahwa dulu pernah terkena abu Gunung Merapi, dan masih banyak sisa-sisa peninggalan candi yang belum jadi. Saat masuk ke area Candi Prambanan, kalau kita ke daerah yang masih terlihat hancur, di sanalah tempat batu-batu yang ‘terbengkalai’ itu tersimpan, bahkan kita bisa lihat sebenarnya pembuatan Candi Prambanan ini belum pernah selesai, sampai sekarang.

img_1944.jpgimg_2002.jpg

Terlalu banyak hal yang belum terungkap di masyarakat tentang Prambanan, but I was grateful I had Mr. Hartoro along the way.

Beliau menceritakan apa-pun tentang Prambanan. Apapun. I bet he is one of the best tour guides in Prambanan. Pak Hartoro cerita tentang sejarah mengenai Prambanan kayak mau ngeluarin semua ilmunya dari kepala…. Sampai matahari tenggelam dan Prambanan hampir ditutup, Pak Hartoro belum selesai cerita. Saya pamit dan waktu saya panggil untuk tanya siapa namanya, Pak Hartoro cerita lagi. HAHA.

I felt so lucky though. See you soon, Mr. Hartoro!

Museum Affandi

img_2020.jpg

Mari kita tinggalkan peradaban Jawa Kuno sejenak.

Zaman penjajahan dan zaman setelah kemerdekaan adalah masa-masa perekonomian Indonesia yang sangat sulit. Seorang pelukis besar lahir di Cirebon pada zaman tersebut. Affandi lahir pada tahun 1907 dan karyanya menjadi saksi bisu kemiskinan dan kesulitan di negara kita.

Beberapa lukisan Affandi dibuat hanya dengan sisa-sisa cat yang berhasil ia kumpulkan, atau kain yang digabung-gabung untuk menjadi sebuah lukisan karena beliau tidak punya uang namun kekeuh untuk tetap melukis.

Museum Affandi berdiri atas keinginan Affandi sendiri dan berisi karya karya Affandi yang belum atau memang tidak dijual. Mulai dari Affandi belum menemukan karakter lukisannya, sampai lukisan terakhir yang beliau buat sebelum meninggal. Dari ruangan utama ini kita bisa melihat dari dekat dan jelas karya ekspresionisme dan romantisme seorang Affandi.

img_2022.jpgimg_2023.jpgimg_2020.jpg

Sosok perempuan berperan besar dalam kehidupan Affandi, terutama ibu dan istrinya. Jangan heran kalau kita menemukan banyak lukisan dari kedua sosok tersebut. Museum ini dibangun tepat di sebelah makam Affandi dan sang istri, hal tersebut merupakan permintaan dari Affandi sendiri. Sebagian lukisan masih dijual, namun sebagiannya sudah menjadi aset negara yang berarti tidak ternilai harganya dan tidak bisa dibeli.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

img_1928.jpgSaya menyempatkan diri berkunjung ke tempat ini lagi walaupun sudah berkali-kali.

Mengapa? Karena suka.

Ya….karena suka.

“Kerja jadi abdi dalem itu rasanya damai”, kata salah seorang abdi dalem.

Walaupun terkesan mistis karena pengaruh Islam Kejawen, entah mengapa Keraton Jogja selalu membawa suasana yang adem. Semuanya seolah-olah berjalan selaras, tenang, asri.

Keraton dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I dengan posisi tepat di tengah-tengah kota Jogja, yang berarti jika ditarik garis lurus ke utara (Gunung Merapi) dan ke selatan (Parangtritis) akan menunjukkan jarak yang sama, dengan selasarnya sebagai titik tengah.

img_2074.jpgimg_2057.jpgimg_2034.jpgimg_1923.jpg

Banyak lokasi di keraton yang sampai hari ini masih dipergunakan, misalanya selasar yang ada di gambar atas. Selasar itu berguna untuk menampilkan beragam kesenian yang setiap harinya berbeda-beda. Ada lagi selasar yang khusus untuk menyimpan gamelan, untuk perwayangan, dan selasar khusus untuk ruang tunggu para penari kerajaan.

Katanya, Raja yang sampai sekarang dikagum-kagumi adalah Sultan Hamengkubuwono VIII (he was so talented and good looking though). Dengar-dengar cerita dari orang Jogja, Sultan HB VIII adalah sosok yang betul-betul menjadi panutan (walaupun yang sebelumnya juga), meraih banyak prestasi, sekaligus berhasil menembus posisi di pemerintahan Indonesia menjadi wakil presiden Soeharto. Beliau terkenal dengan sosok yang lebih memilih untuk diam daripada banyak bicara, karena perkataan pemimpin sering kali dijadikan bahan untuk dicari kesalahannya, dan perkataan yang sudah keluar dari mulut seorang raja tidak bisa ditarik kembali.

..

Cinta dan pengabdian abdi dalem terhadap raja memang nampaknya belum sirna. Walaupun menerima imbalan yang tidak seberapa¬†(18.000 atau 20.000 ? per bulan), kedamaian adalah hal utama yang mereka cari. Mereka mengabdi kepada raja yang memerintah Keraton Jogjakarta yang masih “hidup” sampai zaman sekarang. Meskipun simpang siur masalah internal yang terjadi, sebagai penonton kita hanya bisa berdoa, dan berharap segala sesuatu berjalan dengan baik.

“Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman”

–Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s