Menuju Labuan Bajo

Maksut hati menyusuri Flores, apa dikata hati ini jatuh pada Labuan Bajo :”)

Pulau Flores. Adatnya, orang-orangnya, kerajinannya, alamnya, tempat wisatanya, semuanya nggak ada yang mengecewakan. Saya mengambil kesimpulan bahwa iklim kering nggak membuat Indonesia Tengah terkucilkan dari list tempat-tempat yang mesti diexplore. Sebuah kekurangan yang menghasilkan keunikan.

Perjalanan saya dimulai dari bagian timur Flores – Maumere, ke paling barat Flores – Labuan Bajo. Perjalanan ini bukan hal yang memakan waktu singkat. Pasalnya, panjang Pulau Flores sendiri sudah lebih dari setengahnya Pulau Jawa. Ditambah lagi dengan jalanan yang nggak lazim untuk kami. Total waktu perjalanan 7 hari 6 malam. Capek, sun-burned, but worth it. It was exactly one year ago but still, it sticks in both of my mind and heart.

Maumere

IMG_9272IMG_9280

Tips : Mulai trip dari Maumere bukan Labuan Bajo

Well, it actually depends on you, saya sendiri lebih cinta sama laut daripada gunung. So, save the best for the last.

Pulau Flores harus dieksplor  secara utuh, jangan hanya Labuan Bajo saja.

Anyway, di Maumere hampir nggak ada hotel berbintang. Yang terlihat hanya guesthouse di sepanjang jalan dan itu kebanyakan rumah penduduk sendiri yang mereka jadikan tempat penginapan.

Guest house di Maumere ada di kisaran Rp 100.000-500.000. Ankermi Happy House adalah guest house yang paling recommended, katanya.

Danau KelimutuIMG_9402IMG_9286

Tips : Usahakan mulai perjalanan ke Danau Kelimutu 1 jam sebelum matahari terbit – supaya bisa lihat sunrise

Warna yang lazim ditemukan di foto-foto yang beredar adalah merah- merah kecoklatan. Tapi saat itu warna kedua danau sama :O Biasa aja sih sebenernya…. karena katanya warnanya emang berubah-ubah terus.

Karena sudah sering membaca atau mendengar ‘spoiler’ tentang danau ini, kita mungkin nggak merasa danau ini sesuatu yang spesial. Tapi kalau suatu hari ke Gunung Kelimutu, saya menyarankan untuk letakkan camera atau handphone sejenak buat menikmati yang ada di depan mata.

Jangan sampai kita cuma bilang “bagus ya foto-fotonya” bukan “bagus ya danaunya”. Nyatanya, yang sibuk foto-foto di sana hampir semuanya orang Indonesia, dan yang menikmati pemandangan kebanyakan malah tourist asing. Hampir selalu begitu.

IMG_9353

Tiwu Ata Bupu (Lake of Old People)

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (Lake of Young Men and Maidens) and Tiwu Ata Polo (Bewitched, or Enchanted Lake

IMG_9330

Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (Lake of Young Men and Maidens) and Tiwu Ata Polo (Bewitched or Enchanted Lake)

Konon, masyarakat Lio percaya bahwa danau-danau ini menyimpan arwah orang-orang yang sudah meninggal. Danau pertama dipercaya sebagai tempat berkumpulnya arwah petua dan orang orang tua yang sudah tiada, disebut sebagai Tiwu Ata Bupu.

Sementara, dua danau yang berseblahan dipercaya menyimpan arwah orang orang muda (yang depan) dan orang orang jahat (yang belakang). Danau Tiwu Ata Bupu biasanya berwarna merah kecoklat-coklatan. Warna merah sendiri melambangkan kejahatan, tapi pada saat saya datang, warnanya lagi hijau tosca. Pemandu bilang, selama 25 tahun terakhir warna danau selalu berubah dengan cepat tanpa ada yang mengetahui sebabnya.

Desa Walogai TengahIMG_9436IMG_9437IMG_9421IMG_9441

Melewati beberapa rumah penduduk, kami akhirnya disambut oleh petua adat kampung tersebut. Rumah adat di Desa Walogai sebagian masih asli, tapi sebagian sudah diganti dengan yang baru pasca kebakaran beberapa tahun lalu. Kebakaran itu juga mengancurkan makam yang ada di kampung, sehingga kuburannya (dan tengkoraknya) berantakan dan harus disusun ulang :O #yeah

Di sini, pertama kalinya saya lihat makam yang berbentuk punden berundak, yang biasanya ada di buku sejarah SMA…. Punden berundak itu semacam bangunan yang dibangun dari batu untuk pemujaan arwah nenek moyang. Intinya, jangan pernah naik-naik untuk lihat-lihat ke atas  karena penduduk setempat menganggap tempat itu sebagai sesuatu yang sakral, dimana orang-orang berjasa dan ternama dari kampungnya diistirahatkan.

Kampung Adat BenaIMG_9472IMG_9478IMG_9482

Next, this is it! Kampung adat Bena. Kampung Bena itu ibarat primadona di daerah Bajawa, kampungnya luas dan adat istiadatnya masih kental sampai sekarang. Bahkan sesampainya saya di sana, mereka sedang mempersiapkan diri untuk melakukan ‘syukuran’ di akhir tahun berupa tari-tarian untuk musim panen yang telah berlalu.

Tarian ini biasanya dilakukan oleh beberapa orang dewasa dan anak-anak, isinya kurang lebih bermaksut untuk menyampaikan rasa syukur bahwa mereka sudah melewati musim panen. Sebagian besar masyarakat Flores menganut agama Catholic, tapi mereka juga mengaku percaya pada peran roh nenek moyang

IMG_9465TIPS : Bargain. They got so many beautiful tenun fabrics but don’t ever forget to bargain. Anw, kainnya memang bagus banget sih tapi kadang ada ‘isi’nya, be careful hahaha

Bena masih menyimpan banyak cerita. Atap rumah dari jerami bukan satu-satunya yang jadi ikon, karena ternyata..oh ternyata. Tanah yang kita lewati adalah makam leluhur mereka!!!!!!!!????? Yep. Mereka menguburkan sanak saudara mereka di depan rumah mereka sendiri. Jadi berhati-hatilah, soalnya bisa jadi yang kita injak itu kuburan.

Finally, Labuan BajoIMG_9542

The last but not least, the beautiful Labuhan Bajo! This picture was taken around 6 pm. Dari kejauhan, sudah terlihat pantulan sinar matahari terbenam di permukaan laut. Nggak ada yang menggantikan rasanya setelah duduk di mobil 9-10 jam, lalu akhirnya sampai di tujuan, dengan bonus tempat tujuannya supernggak ngecewain. Saat lautan sudah terlihat, matahari belum mulai terbenam dan itu (seriusan) bagus banget…..sampe speechless.

We literally stopped the car for 5 minutes to see the beauty of Labuan Bajo from a distance.

Gili Lawa

IMG_9577IMG_9584IMG_9590

TIPS : Start your journey early in the morning, use sport shoes.

Semakin pagi kita pergi, semakin baik. Gili Lawa menjadi tujuan pertama saya di Labuan Bajo. Walaupun kami pergi ke sini pada bulan December, cuaca tetap terik dan panasnya menyengat kulit. Pemandu kami menyarankan kami berangkat lebih pagi esok harinya supaya makin banyak tempat yang bisa dikunjungi dan cuaca pagi hari masih belum begitu panas.

Jangan lupa bawa air minum setiap kali sampai di pulau dan JANGAN pakai sendal jepit. Penting! Serius, itu bikin sengsara banget, sebab trekking pertama saya ini dilakukan dengan sendal jepit, jam 12 siang, belum makan. Waktu selesai sampai di paling atas, rasanya mau pake jetpack aja langsung turun ke bawah hahaha.

Komodo Island

IMG_9667IMG_9654IMG_9639
collage

Next stop! The Komodo Island, dimana hewan endemik Komodo paling banyak ditemukan. Kata rangers, komodo bisa ditemukan di pulau-pulau lain juga,  misalnya Pulau Padar, tetapi jumlahnya nggak banyak.

Kami datang ke sana setelah jam 12 siang. Sayangnya, jam makan siang kita pun juga menjadi jam makan siang Komodo! Jadi kalau mau menyaksikan Komodo vs Rusa, datanglah sebelum jam makan siang karena Komodo sedang aktif-aktifnya. Setelah makan siang mereka kebanyakan males gerak..

Anyway, kalau mau coba pegang dan foto-foto sama komodonya, keep calm and trust the rangers 😉 hahaha.

Pink Beach

Kami menyempatkan diri berhenti di Pink Beach untuk lunch. Semua makanan kami fresh from the ocean dan di masak pagi harinya sebelum kami berangkat. Di Pink Beach terkenal untuk aktivitas snorkellingnya, saya nggak tau dengan diving. Tapi dari kapalpun sudah bisa dilihat dasar laut yang kaya akan terumbu karang dan ikan. Denger-denger, Pink Beach di Lombok masih kalah sama yang di Flores hahaha

IMG_9714

Anywayyyy, SHOUT OUT TO BANG FADLI !!!!!!! (yang tengah). Sekilas tentang pengemudi kapal kami. Beliau adalah orang yang bawa kami kemana-mana selama kami di Labuan Bajo. Pak Fadli adalah mantan rescuer dan diver konservasi terumbu karang di Wakatobi dan Labuhan Bajo. Jadi, sebelum nyupirin kapal, dulunya ia bekerja untuk lembaga non profit seperti WWF untuk menjaga terumbu karang di daerah tersebut agar tetap stabil, dengan cara apa? Dengan menghitung rata-rata pertumbuhan, ketinggian, dll secara rutin. Selama perjalanan, kami dikasihtau banyak hal tentang laut di Indonesia sama Bang Fadli, dia ga berhenti cerita dan lucu banget. Bawa kapalnya juga enak, tenang dan nggak bikin pusing padahal ombak lagi besar-besarnya.

Bang Fadli yang ajak kami ke tempat-tempat yang susah ditempuh dan jarang didatangi orang karena strong current bulan December. Sayangnya, saya nggak foto sama sekali tempat-tempatnya, soalnya itu di tengah laut dan ombaknya besar jadi ribet kalo keluarin camera hehehe. Kayaknya Bang Fadli tau saya sedih banget gak bisa diving jadi kami diajak pergi liat Manta Ray dari permukaan laut! Ada lumba-lumba juga. Terumbu karang terlihat jelas sekali eveen dari kapal, warna-warni, banyak banget dan bagus banget. Terima Kasih banyak Bang Fadli!!!!!!!!

Kanawa Island

IMG_9754IMG_9730IMG_9752IMG_9734

Kanawa berukuran kecil, tapi punya banyak vila untuk disewa. Di sana suasananya santai banget dan biasa orang-orang hiking untuk ambil foto dari ketinggian. Sayangnya, kami sudah terlanjut duduk-duduk di bayangan pohon dan angin lagi enak buat santai 😉

Kanawa cocok buat bawa big family ke Flores karena ada bar kecil gitu dan tempat mainnya lumayan luas dan pulaunya private. Kalau penasaran, jalan jalan di sekitar pantai Kanawa ada baiknya karena scenery lautnya bagus dan luas soalnya pulau di sekitar Kanawa jarang-jarang 🙂

Padar Island

IMG_9778

Tujuan yang terakhir adalah Pulau Padar. Termasuk pulau yang paling jauh tapi paling bagus, menurut saya. Semua orang yang ke Labuan Bajo harus kesini sih, soalnya bagus banget.

Pulau-pulau di Labuan Bajo banyak yang tidak berpenghuni, termasuk Pulau Padar. Pulau ini ukurannya besar, jadi dari atas, kita bisa lihat kedua sisi pulau dan pantai yang berbeda. Dari atas, pemandangannya astaga…… Menurut saya Flores tuh kayak tempat sendiri di Indonesia, kayak di film petualangan zaman dulu tapi masih ada sampai sekarang.

..

Setelah perjalanan selesai, kami menghabiskan waktu untuk jalan-jalan di pusat kota Labuan Bajo. Waktu mengembalikan kapal kepada yang punya, saya sempat ngobrol-ngobrol sama orang yang kerja di pelabuhan.

Beberapa tahun belakangan ini, Labuan Bajo memang selalu ramai dikunjungi orang karena ada event Sail Komodo 2013. Investor asing pada datang buat mendirikan ini itu. Sayangnya, hampir seluruh Labuan Bajo dan perekonomian di Labuan Bajo itu rata-rata milik orang Eropa, Italy khususnya.

Sampai-sampai ada satu pulau, tidak berpemilik, tapi berpenghuni, yang mau dibayar 14 Milliar Rupiah supaya penduduk itu pada pergi dan si investor bisa mendirikan hotel. Ada lagi, politikus yang mau beli ‘pantai terakhir’ warisan nenek moyang mereka yang dimiliki oleh masyarakat Labuan Bajo untuk dijadikan penginapan.

Padahal, saya dengar seluruh pantai sudah dibeli dan pantai itulah satu-satunya yang tersisa. Memang, tanpa mereka mungkin Labuan Bajo nggak akan seperti hari ini. Tapi tetep aja, miris ya.. 😦

IMG_9550

Kalau suatu hari kesini, jangan lupa buat nggak buang sampah sembarangan!!!!! Ecosystem di bawah laut bergantung pada laut yang bersih juga! Jadi jangan datang untuk ngotor-ngotorin terus pulang. hahaha

It was a really great time, Flores. Pulau dengan penuh senyumaaan 😀 See you when I see you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s