Kuliah Tahun Kedua

Reading time: 8 minutes

Pesawat selalu jadi tempat berpikir. Pikir panjang, pikir pendek, pikiran gampang, pikiran sulit. Semua. Entah satu jam, lima jam, atau berjam-jam, memang gak terbiasa nonton film di pesawat sih. Kalau nggak tidur, ya perhatiin pramugari tawarin minuman atau perhatiin orang lain yang tidur juga. Pesawat malam itu seru. Seru karena serasa selesai atau mengakhiri sesuatu. Mengakhiri hari, mengakhiri tugas, mengakhiri perjalanan, atau mengakhiri semester kuliah juga.

Ah tahun kedua….

Btw ini sambil dengerin Pulang – Float yang sudah diputar secara otomatis di kepala sejak 2 minggu terakhir karena ngebet pulang, dan akhirnya pulang juga.

Gak ya, ini bukan kolom tulisan untuk curhat, tapi mungkin lebih tempat buat mengajak orang-orang juga untuk menuangkan pikiran, atau opini, atau pelajaran, atau pandangan yang didapatkan bukan dari seminar dan lecture halls tapi dari kehidupan sehari-hari. Karena yang dipelajari dari hidup kita nggak bisa dibeli di bookstore paling oke sekalipun, dan nggak bisa diacess di academic journal manapun. Bukan berarti pikiran kita paling benar, tapi seiring berjalannya waktu saya pingin melihat ke belakang dan lihat bagaimana cara pandang dan cara pikir itu berubah (semoga ke arah yang lebih baik dan benar, walaupun relatif). Di sini mungkin saya hanya bisa mencurahkan rasa syukur, karena terlalu banyak pelajaran di kuliah tahun kedua yang tidak bisa dirangkum sekaliguz.

Tahun Kedua

*Teriak AAAAAAA 100x*

Kuliah kuliah kuliah. Kuliah rasanya sama seperti bintang jatuh yang saya lihat beberapa tahun lalu di Maluku. Terlalu cepat. Nggak berasa. Tapi menyediakan waktu yang cukup untuk bermimpi.

Lucu kalau menoleh ke belakang sekali lagi untuk mengingat betapa saya benci belajar di negeri orang. What. Tempat di mana orang-orang pacarannya sama iPhone dan hidup dengan ambisi utama beli apartment bagus di city.

Well, enggak lah nggak separah itu. Tapi kira kira begitu gambarannya. Tapi sekarang, I can’t be more thankful that I have the freakin chance to live by my own, di tempat yang beda budaya, beda value, ya beda aja pokoknya. Karena waktu kuliah lebih banyak menghabiskan waktu sendiri; di library, di cafe, di kamar, di mana-mana, alhasil jadi lebih sering berpikir. Hahahaha, masa? Ya coba aja sendiri.

Delapan belas tahun hidup dan sekolah di Jakarta bikin saya jadi orang yang susah mikir. Semua sudah dipikirkan orang lain jadi nggak perlu mikir sendiri. Nyasar, tanya satpam. Lupa buat PR, tanya temen. Ulangan susah, protes ke guru. Di sini ya nyasar, mau tanya orang belom tentu bisa bahasa Inggris. Ulangan susah, dibikin makin susah sama tatapan professor yang seolah-olah ngomong: ” hha. makan tuh yha. bye”.

Kejadian dimarahin tukang henpon gara-gara nanya “Kok murah banget harganya?” bisa berhujung pada kantuk di esok hari karena malemnya nggak bisa tidur. Kalo di Jakarta, paling curhat ke pak supir: lha iya masa aku diomelin tukang henpon gara gara nanya harga?!?! Yang mo beli sopo sik?! Gegara tinggal sendiri, anaknya emang jadi hobi perhatiin hal-hal kecil yang kalo dipikirin suka bikin senyum-senyum sendiri.

Highlight of the semester: Coldplay. Lol.

1. Belajar Adaptasi dan Relasi

Sadar nggak sadar kenyamanan itu kadang bisa jadi penjara. Nyaman melakukan segala sesuatu sendiri dan tanpa intervensi orang lain juga bisa jadi bumerang buat kita.

Contoh, nolak diajak temen pergi atau bantuin pindahan barang karena males keluar padahal di kamar juga cuman scroll Instagram. Saya merasa banget sih generasi kita jadi generasi yang egois, mau menang sendiri, dan bodo amat sama orang lain. In this case, nolak atau terima itu pilihan, tapi kalau dengan alasan ‘lebih enak sendiri’, bisa jadi kita mesti pikir ulang. Bener, nggak semua orang suka ngobrol, dan mungkin ketemuan sama si A yang nggak gitu deket terkesan buang-buang waktu. Ini sudut pandang saya sih, tapi kalo kita menghabiskan waktu sendiri (eg: tidur, scroll instagram) apakah kita nggak membuang-buang waktu juga? Terkadang memang kita mesti ngorbanin kenyamanan kita sendiri ya sesimple, untuk orang lain. Ya sesederhana untuk ngobrol aja sama mereka. (Ini berlaku untuk ketemuan sama orang-orang yang kalo ngobrol lebih daripada topik gossip dan weather. haha.)

Alangkah egoisnya kita bilang nggak ada waktu untuk makan siang sama orang yang nggak dikenal-kenal banget, tapi meluangkan 1000 jam untuk tiduran dan mainan laptop. Saya belajar di setiap pembicaraan sama siapapun, pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil tapi kitanya kadang nggak sadar. Saya belajar juga sebenernya orang-orang itu banyak yang baik kalau kita mau usaha sedikit buat belajar mengerti orang lain. Contoh, orang Hong Kong tuh ngomong biasa juga nadanya ngomel. My freshmen year was a nightmare simply because I found that all people were super impolite and inconsiderate. Pergi ke restoran, dikasih menunya dilempar gitu aja ke meja. Mau pesen minuman ujung-ujungnya ngerenungin gua salah apa sampe diomelin 1 menit.

In this case, memang perbedaan bahasa. Tapi nyatanya nggak semua orang pintar dalam mengekspresikan maksut baik dan intentionnya. Saya sendiri mesti memaksa diri buat melihat lingkungan saya itu jadi sesuatu yang positive. Hahahaha. It’s kinda funny recalling how I hated Hong Kong so much but now I can’t imagine myself leaving this place in 2 years. Saat kita mau belajar punya relasi sama orang-orang baru yang jauh dari ‘normalnya’ kita, kita otomatis belajar adaptasi sama lingkungan kita sendiri. Lucu aja dulu sebisa mungkin menghindari ngomong sama orang lokal yang udah tua soalnya hobinya ‘ngomel’ tapi sekarang bisa diajak selfie padahal nggak ngerti doi ngomong apasi…….

Mungkin terkadang kita sudah lelah dengan “komunikasi”, karena saking banyaknya whatsapp sama line yang masuk setiap hari. Balesin comment di instagram. Sampe-sampe komunikasi dan relasi yang aslipun bikin jenuh. Ada baiknya kita istirahat dari wara-wiri social media untuk berpikir betapa lumpuhnya kita tanpa social media. Kalo nggak ada instagram, di train jadi mesti baca buku. Eh nggak taunya ketemu orang yang suka maps juga waktu itu, terus ngobrol soal bukunya deh. Lha kalo kerjanya ngescroll instagram juga people won’t bother to ask you: siapa tuh. Hahahahaha.

PS: Saya lebih dari 10x install dan uninstall instagram dalam satu semester. Maunya selama sebulan, gagal terus. Tapi boleh dicoba karena ngebantu banget untuk lebih menghargai kehidupan di luar social media! 😀

Pokoknya, tinggal di Hong Kong nggak segampang keliatannya sih to be honest. Particularly di campus saya yang nggak international-international amat. Tapi waktu kita mau belajar buat coba mengerti orang lain, maka pandangan kita terhadap lingkungan kita pun bisa jadi berubah juga. Saya bisa bilang relasi kita sama orang menentukan betah atau enggak betahnya kita di suatu tempat. Seriously, kadang bukan makanannya, atau seberapa dingin waktu winter dan seberapa panas waktu summer, tapi relasi. Simply gimana kita yang mengontrol diri kita sendiri, bukan lingkungan yang kontrol kita.

“An entire sea of water can’t sink a ship unless it gets inside the ship. Similarly, the negativity of the world can’t put you down unless you allow it to get inside you.”
― Goi Nasu

2. Belajar Bersyukur

Secara spesifik bersyukur dilahirkan, tumbuh besar di Indonesia, dan diberi kesempatan ke luar dari comfort zone untuk sekedar memperoleh Bachelor Degree yang saya sendiri nggak tau nanti berguna atau engga. Wong semuanya bisa digoogle sendiri. Hahahahahahahaha.

Daymn.

Disclaimer: Opini ini 101% biased karena saya orang Indonesia. Tapi, bersyukurlah kita yang dilahirkan dan tumbuh besar di Indonesia, atau kita yang sempat tinggal di Indonesia, atau yang mengerti rasanya jadi orang Indonesia.

Hidup di tempat atau negara yang sudah maju secara finansial otomatis mengubah pola pikir manusianya juga. Ambil contoh Hong Kong, cita-cita anak muda di sini untuk tanah nya sendiri tidak lebih dari ‘memisahkan diri dari China’ karena alasan yang beragram contohnya: the absence of their sense of belonging to mainland China. (Link) Intinya, menyangkut politik HK-China begitu. Padahal secara geografis sih ya #a6, air yang dikonsumsi orang Hong Kong aja datengnya dari China, terus kalo jadi negara sendiri mau minum air dari mana? air ujan? jk. But really, if we take a look at the history then we might need to think about it one more time. No no no. I’m not saying it’s unimportant, but we, Indonesians, certainly have a whole different perspective towards our own nation, and it probably shapes our ambition and purpose as human beings. Gak ya, nggak mau bahas soal yang super sensitif di tempat saya menimba ilmu. Bisa bisa dikeroyokin satu kampus.

Mungkin kita pikir: dude ‘merdeka’ nggak ‘merdeka’ aja diurusin banget memang nggak ada yang lain yang bisa diperjuangkan ya orang dulunya juga punya China. Walaupun nyatanya masalah itu 1000x lebih kompleks dari kelihatannya, itulah hal yang sempat kepikiran di benak saya. Beberapa detik kemudian saya kepikiran, mimpi orang-orang Indonesia itu gimana ya?

Of course Indonesia itu jauh dari maju, jauh dari mandiri, jauh juga dari canggih. Tapi sadar nggak sadar di Indonesia orang masih bisa bercita-cita macem maccem, orang masih bisa punya mimpi yang luas. Yang bikin kita bahagia bisa jadi bukan beli apartment bagus di Jakarta Pusat, tapi sekedar ngajarin anak jalanan di bawah kolong jembatan Grogol saja sudah bikin hidup rasanya komplit. Apalagi kalo anaknya yang diajarin dapet nilai bagus di sekolah (biasa kan dulu pikiran anak SMA hanya seklise berkontribusi untuk lingkungan hahaha). Di tempat saya tumbuh besar saya melihat bagaimana orang bisa punya kesempatan untuk bercita-cita buat orang lain, bukan untuk diri sendiri. Orang masih mau susah dan berjuang buat orang lain, masih bisa mengerjakan sesuatu dengan hati yang tulus dan tanpa pamrih. Nah itu yang saya nggak dapetin di luar negeri. Particularly di tempat saya belajar.

In contrast, saya juga belajar bagaimana kalau ngerjain segala sesuatu nggak sungguh-sungguh, kita tinggal tunggu ditendang aja dari peredaran karena kalah bersaing. Honestly, saya thankful sekali bisa berada di dua lingkungan yang kontras. Suatu tempat dimana tukang gorengan bisa bilang Alhamdulilah dagangannya ada yang kejual pagi-pagi, dan di tempat dimana orang sudah kaya rayapun bisa terseret kasus pembunuhan gara-gara gangguan jiwa. Bersyukur karena saya bisa hidup enak di Jakarta, tapi juga merasakan bahwa di tempat-tempat yang lebih maju, social mobility itu sulit, makanya mesti bisa tanggung jawab sama diri sendiri dan kerja yang bener nanti.

Intinya, saya bersyukur bisa berada di tengah orang-orang yang punya cita-cita luas, punya mimpi untuk orang lain, mimpi jadi mentri, jadi ceo startup yang bantuin pengrajin di daerah-daerah kecil, jadi guru, jadi environmentalist, jadi apapun yang pengaruh profesinya tidak bisa dibeli dengan uang. Juga, saya bersyukur bisa mengerti bahwa di antara mimpi dan kenyataan itu ada kerja keras dan realita. Nggak semudah itu bermimpi karena saya percaya terlalu banyak orang yang mau punya fancy apartment di Central, nyatanya yang punya apartement di sana ya segitu-segitu aja. Emang dasar hidup ini seleksi alam ya cuy.

Akhir kata, saya belajar bahwa kuliah bukan hanya tentang grade saya seberapa tinggi atau udah internship atau belum. Duh. Apa yang kita pelajari di luar kuliah itu sendiri malahan kadang jadi hal-hal yang lebih berharga buat keberadaan kita sebagai manusia/murid/anak/temen/saudara/istri/suami/dkk di society. Lagipula, pelajaran di luar lecture hall kadang lebih seru sih HAHAHA. Btw makasih ya yang sudah baca sampai sejauh ini.

Proses belajar nggak akan ada habisnya sampe kita jadi satu sama alam lagi, mungkin ada baiknya jangan habiskan pikiran hanya di: lulus kuliah GPAnya berapa ya?

Advertisements